Mengelola pelatihan orang dewasa dapat dikatakan gampang-gampang sulit. Betapa tidak. Orang dewasa secara emperis sudah menguasai konsep atau pengetahuan dengan caranya sendiri terlepas dari benar dan salah. Bahkan sekalipun salah biasanya diyakini dengan ngotot bahwa itu yang paling baik dan benar.
Hal tersebut di atas biasanya mereka proteck diri dan sulit menerima hal baru dari luar. Oleh karena itu perlu strategi khusus untuk membuka dan membuat orang dewasa welcome atau care dengan informasi baru. Ada bebarapa langkah yang dapat dilakukan;
1. Semua Peserta diminta untuk memperkenalkan diri.
Mengapa hal ini perlu dilakukan?
Dengan memperkenalkan dirinya, peserta berharap dpt diterima dan diakui oleh peserta yg
lain. Apalagi kalo namanya sudah disebut berkali-kali oleh fasilitator, dia akan khawatir
melakukan kesalahan.
Peserta juga diminta menceritakan pengalamannya terkait dengan apa yang dibahas dalam
pelatihan. Keuntungan lain, fasilitator dapat memanfaatkan pengalamannya sebagai pelatihan
dan pola pengembangan pelatihan. Sehingga secara kognitif, apa yg dibahas dlm pelatihan tdk
asing denga apa yg sdh dimiliki peserta.
2. Komitmen Belajar
Orang dewasa kadang kala ada kecenderungan ingin menguasai forum, sebagai menurut
Maslow. Kebutuhan seseorang tertinggi adalah Eksistensi dan pengakuan. Agar dapat diakui
oleh kelompknya biasanya over, sok pintar, dll. Oleh karena itu, mereka sendiri diminta
sepakat membuat aturan tentang "Sikap apa yang harus dilakukan dan sikap apa yang harus
tidak dilakukan.
3. Pembentukan Kelompok
Peserta yang berasal dari beberapa daerah perlu disebar dengan cara diundi atau yang lain,
sehingga kelompoknya heterogen dan beragam. Dalam kelompok yg beragam dapat
menginsprirasi anggotanya untuk membuat kesepakatan baru dalam berinteraksi. Hal dpt
memberikan kesempatan luas setiap anggota untuk mengeksplore semua kemampuannya.
SELAMAT MENCOBA
Minggu, 06 Maret 2011
Jumat, 31 Juli 2009
PROGRAM EDC 2009, SMAN 1 KEBOMAS GRESIK
PROGRAM EDC 2009 MENJADI ICON SMAN 1 KEBOMAS
Dalam rangka menyiapkan siswa yang dapat mengikuti pembelajaran SBI/RSBI yang menggunakan menggunakan bilingual sebagai bahasa pengantar, maka SMAN 1 Kebomas mengadakan kegiatan "Bedhol Sekolah" , yaitu membawa siswa kelas X dan sebagian siswa kelas XI dan XII untuk mengikuti belajar bahasa Inggris secara intensif di lembaga kursus ternama di Pare Kediri.
Sebanyak 160 siswa kelas X, dan 40 siswa kelas XI IPA, XII IPA, dan XII IPB berangkat ke Pare Kediri melalui 2 gelombang. Gelombang I berangkat tanggal 2 s.d. 16 Agustus, dan gelombang II berangkat tanggal 16 s.d. 30 Agustus 2009. Selama 15 hari siswa digembleng secara intensif di Kampung Pengembangan Bahasa Inggris (English Developmnent Camp) dan diakhiri dengan ujian yang bertifikat.
Kegiatan EDC tidak hanya diikuti siswa akan tepai juga dikuti oleh beberapa guru yang bahasa inggrisnya kurang bagus. Adapun pembelajaran untuk guru inklud atau terintegrasi dengan pembelajaran siswa. Sehingga interaksi komunikasi antara guru dan siswa sudah terkondisi mulai dari pare.
Sebanyak 160 siswa kelas X, dan 40 siswa kelas XI IPA, XII IPA, dan XII IPB berangkat ke Pare Kediri melalui 2 gelombang. Gelombang I berangkat tanggal 2 s.d. 16 Agustus, dan gelombang II berangkat tanggal 16 s.d. 30 Agustus 2009. Selama 15 hari siswa digembleng secara intensif di Kampung Pengembangan Bahasa Inggris (English Developmnent Camp) dan diakhiri dengan ujian yang bertifikat.
Kegiatan EDC tidak hanya diikuti siswa akan tepai juga dikuti oleh beberapa guru yang bahasa inggrisnya kurang bagus. Adapun pembelajaran untuk guru inklud atau terintegrasi dengan pembelajaran siswa. Sehingga interaksi komunikasi antara guru dan siswa sudah terkondisi mulai dari pare.
Selasa, 02 Juni 2009
WORKSHOP PENGEMBANGAN SMAN 1 KEBOMAS GRESIK
WORKSHOP PENGEMBANGAN
SMAN 1 KEBOMAS MENUJU RSBI
Oleh: Drs. Marjuki, M.Pd.
SMAN 1 Kebomas Gresik telah melaksanakan Workshop Pengembangan Sekolah Menuju Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang diikuti 47 guru dan 6 karyawan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Profesor Drs. H. Efendi, M.Pd., PHD., dan Tim RSBI SMAN 3 Malang.
Workshop internal atau In House Training (IHT) betul-betul sangat istimewa, karena kehadiran Prof. Efendi dapat memberikan obat mujarab bak pengobatan Ponari. Prof. Efendi mampu menyuguhkan icon-icon yang sangat krusial bagi pengembangan sekolah yang ingin berganti kelamin RSBI. Semua karakteristik out put yang diharapkan sebagai sekolah RSBI di sampaikan secara lugas dan gamblang. Tidak satupun yang tercecer.
Demikian dari Tim SMAN 3 Malang, Abdul Tedy, M.Pd, memaparkan semua seluk beluk menjadi sekolah yang berkelamin RSBI meskipun status RSBI SMAN 3 Malang masih dipending oleh pusat. Akan tetapi semangatnya sebagai RSBI masih luar biasa, semoga badai yang menimpa SMAN 3 Malang cepat berlalu.
SMAN 1 Kebomas menurut pengamatan Prof. Efendi dan Pak Tedy jauh lebih siap untuk menjadi RSBI karena guru-gurunya sangat muda, kemampuan berbahasa inggrisnya luar biasa, hal ini merupakan modal utama. Lain halnya dengan sekolah lain yang RSBI nya on going, artinya sekolah sudah berjalan baru di RSBI
Akan tetapi saya melihat SMAN 1 Kebomas terdapat segudang potensi. Jadi saya sangat optimis akan dapat menjadi sekolah RSBI dan cepat menjadi SBI, amin. Itulah yang sering terucap berkali-kali dari benak Prof. Efendi dan pak Tedy.
Semoga SMAN 1 Kebomas yang sekarang RSBI bottom up segera menjadi RSBI pusat dan SBI yang sesuangguhnya dengan segudang prestasi, Amin x3, ya Robbal Alamain.
Drs. Marjuki, M.Pd
Ketua Klub Guru Gresik
Jumat, 23 Januari 2009
Benarkah Kerja Sama dalam Unas Membantu Orang Tua?
Bukan hal yang tabu kalau sesama siswa sering berceloteh kalau bekerja sama dalam ujian alasan untuk membantu orang tua. Biasanya siswa berceloteh sambil cengengesan merasa tak bersalah dan hal semacam itu dianggap lumrah.
Bagaimana kalau yang bekerja sama itu bukan siswa melainkan guru yang secara diam-diam memberikan jawaban kepada siswa dalam ujian?
Dan bagaimana pula kalau guru diperintahkan oleh kepala sekolah untuk bekerja secara sistematis agar dapat membantu siswa secara total?
Bagaimana menurut Anda?
Bagaimana kalau yang bekerja sama itu bukan siswa melainkan guru yang secara diam-diam memberikan jawaban kepada siswa dalam ujian?
Dan bagaimana pula kalau guru diperintahkan oleh kepala sekolah untuk bekerja secara sistematis agar dapat membantu siswa secara total?
Bagaimana menurut Anda?
Bagaimana Kita Menilai Kinerja Kepala Sekolah/Madrasah?
Seandainya kita sebagai Pengurus Yayasan di suatu Lembaga Pendidikan Swasta atau sebagai Pengawas/Penilik Sekolah/Madrasah, atau sebagai Kepala Dinas/Kepala kantor Depag sedang menilai kinerja bawahannya. Apa yang harus kita lakukan?
Mengembangkan Madrasah Model
Bagaimana caranya kita mengembangkan sekolah/madrasah?
Pertanyaan ini tidak mudah dijawab
Pertanyaan ini tidak mudah dijawab
Langganan:
Postingan (Atom)